Kamu pasti bingung dan bertanya-tanya ketika membaca judul dari buku ini. Apa be


Kamu pasti bingung dan bertanya-tanya ketika membaca judul dari buku ini. Apa betul, dengan bersikap bodo amat adalah bagian dari seni? Memang untuk bersikap bodo amat itu harus berseni? Lalu apa hubungannya sebuah buku, seni bodo amat dan kehidupan?

Mari memulainya dari sang penulis, Mark Manson merupakan seorang blogger sejak tahun 2009. Karir dunia digital New Yorker yang satu ini sangat sukses dengan tulisan tulisan di blog-nya, dimana kurang lebih dikunjungi sekitar dua juta orang setiap bulan.

Mark kembali mencuri perhatian publik saat buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck rilis dan masuk dalam jajaran buku-buku best seller The New York Times dan Washington Post. Disusul belum lama ini buku terjemahan dalam versi Bahasa Indonesia diterbitkan dengan judul yang tak kalah mengundang kontroversi; Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.

Berita Populer Lainnya :   Beberapa jam lagi tahun 2020 akan hadir. Di malam pergantian tahun ini biasanya

Lalu, apa hubungannya seni dengan bersikap bodo amat?

Buku ini bukan untuk mengajak para pembacanya untuk bersikap masa bodoh terhadap segala sesuatau hal yang dihadapi atau dirasakan. Justru, Mark ingin membuka cara berpikir kita yang primitif, bahwa sejatinya ada hal-hal penting yang dirasa tidak perlu dipersoalkan atau diperumit dalam menjalani kehidupan. Buku bersampul oranye ini, Mark akan membatu kita untuk lebih acuh pada hal-hal yang kurang penting melalui tiga seni.

Seni pertama adalah bersikap masa bodoh terhadap segala halangan dan perjuangan dalam mencapai sesuatu yang diinginkan. Saran Mark kepada kita, adalah menghadapi dan menikmatinya. Karna dalam mengejar suatu pencapaian, rintangan akan selalu muncul.

Berita Populer Lainnya :   Kabar gembira untuk warga Bandung dan sekitarnya. Dalam waktu dekat ini, akan ha

Seni Kedua, Mark menyarankan agar kita menemukan hal-hal penting dan berarti untuk diprioritaskan agar kita dapat lebih mudah untuk menyingkirkan atau masa bodoh pada hal-hal yang sepele nilainya.

Seni Ketiga, lebih mencoba mempertegas seni-seni sebelumnya, yakni agar kita dapat memulai untuk memilah mana saja hal yang lebih penting seiring dengan berjalannya waktu, terutama umur. Walaupun terkesan sederhana, tetapi kita bisa tetap merasa bahagia dengan kesederhaan itu.

Warga Bandung, ada yang sudah membaca buku ini?

Teks: Franco Londah

#bandung #infobandung

Berita Populer Lainnya :   Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Kenny Dewi Kani

Sumber Berita